Tafsir Surat Al-Isra Ayat 19: Penjelasan Bagi Mereka yang Menghendaki Kebahagiaan Akhirat

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

 Sabtu 25 Jun 2022 18:55 WIB

Tafsir Surat Al-Isra Ayat 19: Penjelasan Bagi Mereka yang Menghendaki Kebahagiaan Akhirat Foto: Republika/Putra M. Akbar Tafsir Surat Al-Isra Ayat 19: Penjelasan Bagi Mereka yang Menghendaki Kebahagiaan Akhirat

Hidup di dunia adalah nikmat Allah yang harus disyukuri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran menjelaskan orang yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha dengan sungguh-sungguh, melakukan amal sholeh dan beriman, maka usaha mereka akan dibalas dengan baik oleh Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Isra' Ayat 19 dan tafsirnya.

وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا

Baca Juga

Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS Al-Isra': 19)

Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, dalam ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa orang yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh serta tetap beriman, maka dialah orang yang usahanya mendapat balasan yang baik.

Yang dimaksud dengan orang-orang yang menghendaki kehidupan akhirat adalah orang-orang yang mencita-citakan kebahagiaan hidup di akhirat, dan berusaha untuk mendapatkannya dengan mematuhi bimbingan Allah serta menjauhi tuntutan hawa nafsunya.

Orang yang demikian ini selama hidupnya di dunia menganggap bahwa kenikmatan hidup di dunia serta kemewahannya adalah nikmat Allah yang harus disyukuri dan digunakan sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya.

Itulah sebabnya di akhir ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa orang yang demikian itulah yang akan mendapat balasan dari Allah dengan pahala yang berlimpah-limpah, sebagai imbalan dari amalnya yang saleh dan ketabahannya melawan kehendak hawa nafsu. Mereka akan dimasukkan ke dalam surga Firdaus dan kekal selama-lamanya di sana.

Dalam ayat ini disebut tiga syarat yang harus dipenuhi agar seseorang itu mencapai kebahagiaan yang abadi yakni. Pertama, adanya kehendak untuk melakukan suatu perbuatan dengan mengutamakan kebahagiaan akhirat di atas kepentingan duniawi.

Kedua, melakukan amal saleh sebagai perwujudan niatnya mendapatkan kebahagiaan akhirat dengan jalan menaati perintah Allah dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Ketiga, menjadi orang Mukmin, karena iman merupakan dasar untuk diterima atau tidaknya amal perbuatan. Seseorang yang hatinya kosong dari iman, tidak akan mungkin menerima kebahagiaan yang abadi itu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini