Untuk Apa Allah SWT Jadikan Rezeki Manusia Berbeda-beda? Ini Jawaban Alquran

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

 Ahad 15 May 2022 10:36 WIB

Berbagi rezeki/Ilustrasi. Allah SWT memberikan rezeki kepada setiap umat manusia dengan porsi masing-masing Foto: Republika/ Tahta Aidilla Berbagi rezeki/Ilustrasi. Allah SWT memberikan rezeki kepada setiap umat manusia dengan porsi masing-masing

Allah SWT memberikan rezeki kepada setiap umat manusia dengan porsi masing-masing

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Alquran menjelaskan tujuan rezeki manusia berbeda-beda, ada yang berkecukupan, ada yang lebihan dan ada yang kekurangan. Salah satu tujuan dari itu adalah agar manusia saling membantu dan berbagi. 

Namun, selalu saja ada manusia yang serakah dan egois sehingga tidak mau berbagi rezeki. Hal ini dijelaskan dalam Surat An Nahl Ayat 71 dan tafsirnya.

Baca Juga

وَاللّٰهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ فِى الرِّزْقِۚ فَمَا الَّذِيْنَ فُضِّلُوْا بِرَاۤدِّيْ رِزْقِهِمْ عَلٰى مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيْهِ سَوَاۤءٌۗ اَفَبِنِعْمَةِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama-sama (merasakan) rezeki itu. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS An Nahl ayat 71). 

Tafsir Kementerian Agama menerangkan, dalam ayat ini, Allah SWT menyebutkan perbedaan rezeki manusia. Allah SWT menjelaskan bahwa Allah melebihkan rezeki sebagian manusia dari sebagian manusia yang lain. 

Ada manusia yang kaya, ada pula yang fakir, ada manusia yang menguasai sumber-sumber rezeki, dan ada manusia yang tidak memperoleh rezeki yang memadai bagi kehidupannya. Semuanya bertujuan agar satu sama lain saling menolong karena saling membutuhkan. 

Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang diberi rezeki lebih, ada yang tidak mau memberikan sedikit pun rezekinya kepada orang-orang yang bekerja kepadanya yang semestinya mendapat bagian. 

Padahal antara orang-orang yang menguasai dan dikuasai, antara tuan dan budak, sama-sama berhak atas rezeki itu. Oleh karenanya, sepantasnyalah rezeki itu didistribusikan secara adil dan merata kepada semua pihak. 

Apabila pemilik modal merasa berhak mendapat keuntungan karena modal yang dimilikinya, pekerja hendaknya diberi penghasilan sesuai dengan kemampuannya, supaya pemilik modal dan pekerja sama-sama menikmati sumber-sumber penghasilan itu.

ضَرَبَ لَكُمْ مَثَلًا مِنْ أَنْفُسِكُمْ ۖ هَلْ لَكُمْ مِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ شُرَكَاءَ فِي مَا رَزَقْنَاكُمْ فَأَنْتُمْ فِيهِ سَوَاءٌ تَخَافُونَهُمْ كَخِيفَتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ 

"Dia membuat perumpamaan bagimu dari dirimu sendiri. Apakah (kamu rela jika) ada di antara hamba-sahaya yang kamu miliki, menjadi sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, sehingga kamu menjadi setara dengan mereka dalam hal ini, lalu kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada sesamamu. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengerti." (QS Ar Rum ayat 28)

Di akhir ayat, Allah SWT mengingatkan bahwa semua itu adalah nikmat-Nya. Oleh karena itu, mereka seharusnya mensyukuri nikmat itu dengan tidak memonopoli sumber-sumber penghasilan itu untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu.       

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id