Tafsir Lain dari Hadis Celaka Jika Negara Dipimpin Perempuan

Red: Nashih Nashrullah

 Rabu 20 Apr 2022 16:29 WIB

Hadis celaka jika negara dipimpin perempuan turun sesuai konteksnya. Foto: muslimempires.wikispaces.com Hadis celaka jika negara dipimpin perempuan turun sesuai konteksnya.

Hadis celaka jika negara dipimpin perempuan turun sesuai konteksnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Dukungan dan penerimaan para ulama Nusantara dan ulama-ulama yang hidup belakangan  terhadap kepemimpinan perempuan di panggung kekuasaan bukan sekadar berkaitan dengan masalah gender, melainkan lebih penting dari itu berhubungan erat dengan kualifikasi dan kapabilitas yang dimiliki sang pemimpin perempuan.

Para ulama itu mendukung kepemimpinan perempuan dengan menyebutkan kualifikasi bagi penguasa-yang juga harus dimiliki seorang perempuan pemimpin. Seorang pemimpin, misalnya, harus memiliki sifat-sifat terpuji, bertingkah laku baik, bijaksana, dan yang sangat penting adalah melakukan `amr ma'ruf nahyi munkar. Dengan demikian, penerimaan para ulama terhadap kepemimpinan perempuan adalah dengan kualifikasi-kualifikasi religiusitas dan sosial. 

Baca Juga

Selama ini, penolakan beberapa kalangan terhadap kepemimpinan politik perempuan dirujuk pada teks ayat-ayat Alquran dan beberapa hadis Nabi Muhammad. Hadis Rasulullah yang sering dijadikan landasan kuat penolakan tersebut, misalnya, bahwa "Tidak berjaya sebuah kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada perempuan".

Secara tekstual, hadis Nabi ini berbunyi tentang penolakan terhadap kepemimpinan perempuan. Namun, secara konteksual, sesuai dengan asbaab al-wuruudnya, hadis Nabi ini muncul ketika negara Persia dilanda pertikaian dan konflik antarelite politik yang luar biasa dan sulit dibendung.

Akhirnya, negara Persia berada di ambang kehancuran. Pada saat itu, muncul seorang pemimpin perempuan yang memang tidak kapabel untuk mengurus dan menjalankan roda pemerintahan. Artinya, penolakan itu bukan didasarkan pada jenis kelamin, tapi karena ia tidak memiliki kapabelitas dalam memimpin yang bisa jadi juga dimiliki kaum laki-laki.

Ada juga teks ayat Alquran yang sering dijadikan rujukan kaum laki-laki untuk memangku pucuk kepemimpinan, yaitu, Al-rijaalu qawwaamuna 'ala al-nisaa bimaa fadhdhala Allah ba'dhuhun 'alaa ba'dhinn. ''Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.'' (QS Al-Nisaa, 4: 34).

Bagi kaum lelaki, teks ayat ini berarti bahwa kalangan lelaki mendapatkan lisensi sah untuk menjadi pemimpin dalam segala bidang kehidupan. 

Padahal, ayat ini sangat jelas, bahwa Allah memberikan kelebihan tidak hanya kepada laki-laki, tetapi juga kepada perempuan-termasuk juga dalam hal kepemimpinan. Jadi, teks ayat ini harus dipahami, bahwa pemberian mandat kepemimpinan politik bukan berdasarkan kelamin, tetapi sebagai akibat adanya pemenuhan syarat atau fungsi kepemimpinan.

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini