REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada banyak manusia yang mengejar kesuksesan sepanjang hidupnya. Mereka menghabiskan waktu untuk mencari harta, kedudukan, pengaruh, dan penghormatan.
Namun tidak semua menyadari bahwa keberuntungan terbesar bukanlah ketika seseorang menjadi terkenal di mata manusia, melainkan ketika Allah SWT berkehendak menjadikannya seorang yang memahami agama-Nya.
Ilmu agama ibarat cahaya yang menerangi jalan panjang kehidupan. Tanpanya, manusia seperti seorang musafir yang berjalan di tengah malam tanpa lentera. Ia mungkin tetap melangkah, tetapi tidak mengetahui apakah jalan yang ditempuh mengarah pada keselamatan atau justru menuju jurang yang membinasakan.
Karena itu, para ulama selalu menempatkan ilmu sebagai salah satu nikmat terbesar yang dapat diberikan Allah kepada seorang hamba. Dengan ilmu, seseorang mengenal Tuhannya. Dengan ilmu, ia mengetahui batas antara yang benar dan yang salah. Dengan ilmu pula, ia mampu menimbang setiap ucapan dan tindakan dengan timbangan syariat.
Namun memperoleh ilmu bukanlah perkara mudah. Ia menuntut pengorbanan. Seseorang harus melawan rasa malas yang bersemayam dalam dirinya.
Ia harus rela meluangkan waktu, mengeluarkan tenaga, bahkan mengorbankan harta untuk mendatangi majelis ilmu. Ada hari-hari yang panjang, ada rasa lelah, ada godaan untuk berhenti di tengah jalan. Tetapi semua itu adalah bagian dari perjalanan seorang pencari ilmu.
Laksana seorang petani yang menanam benih di musim kemarau, hasilnya tidak selalu tampak seketika. Ia harus sabar menyiram, menunggu, dan merawat. Namun ketika waktunya tiba, benih itu tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan menghasilkan buah yang bermanfaat. Demikian pula ilmu. Buahnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi ia akan membimbing kehidupan seseorang sepanjang hayat.
Allah SWT sendiri menjelaskan kemuliaan orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Yarfa‘illāhul ladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul ‘ilma darajāt.
"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."* (QS Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan sejati tidak semata-mata diukur dari apa yang dimiliki seseorang, tetapi dari kedekatannya kepada Allah dan ilmu yang membimbing hidupnya.
Karena itulah Rasulullah SAW menyampaikan sebuah kabar gembira yang agung. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, beliau bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama."