REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Riya atau pamer merupakan salah satu penyakit hati yang mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam. Sifat ini muncul ketika seseorang melakukan amal atau ibadah bukan semata-mata karena Allah SWT, melainkan untuk mendapatkan perhatian, pujian, atau penilaian manusia.
Secara bahasa, riya berasal dari kata Arab ra'a-yara yang berarti melihat. Adapun secara istilah, riya berarti memperlihatkan amal, ucapan, atau perbuatan kepada orang lain agar mendapat pengakuan dan pujian.
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa orang yang terjangkit riya cenderung menjadikan manusia sebagai tujuan dari amalnya. Ia akan merasa senang ketika dipuji dan kecewa ketika tidak mendapatkan perhatian atas apa yang dilakukannya.
Rasulullah SAW pernah menjelaskan tanda-tanda orang yang memiliki sifat riya dalam sebuah nasihat kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.
Beliau bersabda:
يَا عَلِيُّ، وَلِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَسُجُوْدَهُ مَعَ النَّاسِ وَيَنْقُصُهُ إِذَا صَلَّى وَحْدَهُ وَيَنْشِطُ لِلْمَرْءِ الَّذِيْ يُثْنِيْ عَلَيْهِ وَيَذْكُرُ اللهَ فِي الْخَلَا وَالْمَلَا
Yā 'Aliyyu, walil murā`ī tsalātsu 'alāmāt. Yutimmu rukū'ahu wa sujūdahu ma'an nās, wa yanqushuhu idzā shallā wahdah, wa yansyathu lil mar`illadzī yutsnī 'alaihi, wa yadzkurullāha fil malā wa lā yadzkuruhu fil khalā.
"Wahai Ali, orang yang riya memiliki tiga tanda. Ia menyempurnakan ruku dan sujudnya ketika berada di hadapan banyak orang, tetapi menguranginya ketika shalat sendirian. Ia bersemangat kepada orang yang memuji dirinya. Dan ia berdzikir kepada Allah ketika berada di tengah orang banyak, tetapi tidak ketika sedang sendirian." (Lihat Washiyatul Musthafa karya Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani).
Dari hadis tersebut, para ulama menjelaskan bahwa salah satu ciri utama riya adalah berubahnya kualitas ibadah seseorang bergantung pada ada atau tidaknya manusia yang melihatnya. Ketika berada di hadapan orang lain, ia berusaha menampilkan ibadah yang sempurna. Namun saat tidak ada yang memperhatikan, semangat ibadahnya menurun.
Selain itu, orang yang riya cenderung mencari apresiasi manusia. Ia merasa lebih bersemangat ketika mendapat pujian dan sanjungan. Padahal dalam Islam, amal yang diterima adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
Karena itu, para ulama senantiasa mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap amal. Semakin tersembunyi suatu amal dari pandangan manusia dan semakin kuat orientasinya kepada Allah SWT, maka semakin besar pula harapan diterimanya amal tersebut di sisi-Nya.