REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kisah yang tak pernah benar-benar usang, meski telah berulang kali diceritakan, kisah tentang seorang hamba yang diuji sampai ke batas yang nyaris tak terbayangkan, namun tetap berdiri dengan hati yang utuh. Ia adalah Nabi Ayyub.
Dahulu hidupnya lapang. Harta melimpah, keluarga lengkap, tubuh sehat. Namun satu per satu semuanya diambil. Kekayaan yang dulu mengalir deras menjadi kering. Anak-anak yang dahulu memenuhi rumah dengan tawa, pergi meninggalkan sunyi. Lalu tubuhnya sendiri diuji dengan penyakit yang panjang dan melelahkan.
Hingga akhirnya, yang tersisa hanya satu, seorang istri setia, Rahmah binti Afraim bin Yusuf, yang tetap membersamainya di tengah keterasingan dan luka.
Bayangkan sunyi itu. Bukan sekadar kehilangan, tetapi kehilangan yang datang bertubi-tubi, tanpa jeda. Seolah hidup tidak lagi menyisakan apa pun untuk dipertahankan.
Namun di titik paling rapuh itu, Nabi Ayyub tidak pernah mempertanyakan takdirnya. Ia hanya berdoa dengan lembut, nyaris seperti bisikan:
“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
Di situlah tampak bahwa cobaan bukan sekadar peristiwa pahit, melainkan ruang sunyi tempat iman diuji.
Apa sebenarnya cobaan hidup itu?
Ia tidak selalu hadir dalam bentuk kehilangan besar. Kadang ia datang dalam kegagalan kecil yang terasa menyesakkan, dalam harapan yang tertunda, atau dalam langkah yang tiba-tiba terasa berat tanpa sebab yang jelas.
Di zaman ini, cobaan bahkan kerap hadir dalam bentuk yang lebih halus, kegelisahan yang tak berwujud, yang oleh manusia modern disebut sebagai anxiety. Ia tidak selalu memiliki nama yang pasti, tidak selalu ada sebab yang dapat ditunjuk, tetapi terasa nyata, menekan dada perlahan, membuat pikiran berlari tanpa arah, dan hati seperti kehilangan tempat berpijak.
Mungkin, inilah bentuk ujian yang tidak datang sebagai badai, melainkan sebagai kabut, tipis, namun menutupi pandangan.