Senin 21 Aug 2023 14:40 WIB

Kekeringan di Era Nabi Yusuf, Perspektif Alquran dan Sains

Kekeringan di era Nabi Yusuf diabadikan dalam Alquran.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
 Kekeringan di Era Nabi Yusuf, Perspektif Alquran dan Sains. Foto:  Ilustrasi kekeringan.
Foto:

Sumber air Mesir berasal dari Sungai Nil yang mata airnya sangat jauh di selatan. Maka, berkurangnya air Sungai Nil tentu saja mengakibatkan kekeringan yang meliputi wilayah yang sangat luas, paling tidak hingga tempat mata air Sungai Nil berasal.

Di zaman sekarang, siklus kekeringan yang dipengaruhi oleh mekanisme iklim global, yaitu ENSO (El Nino South Oscillation) di Samudra Pasifik dan IOD di Samudera Hindia, memang terjadi dalam periode perulangan rata-rata selama 7 tahun. Pada periode perulangan tersebut lazimnya hanya terjadi satu kali tahun kering yang berat, dan umumnya disusul oleh satu tahun basah (La Nina), bukan 7 tahun kering secara terus-menerus.

Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam buku Air Dalam Perspektif Alquran dan Sains yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 2011.

Di dalam perspektif sains, kekeringan adalah suatu perioda panjang ketika suatu daerah kekurangan pasokan air. Umumnya kekeringan terjadi ketika suatu daerah tidak menerima curah hujan atau curah hujan kurang dari biasanya secara terus-menerus.

Kekeringan bisa berdampak terhadap lingkungan dan pertanian di daerah yang dipengaruhinya. Kekeringan yang berkepanjangan dapat merusak dan membahayakan ekonomi suatu daerah, walaupun hanya terjadi dalam setahun. Lebih bahaya lagi jika kekeringan terjadi dalam beberapa tahun terus-menerus.

Periode kekeringan yang panjang sejak zaman dahulu telah menyebabkan terjadinya migrasi penduduk, dan memegang peranan kunci pada peristiwa-peristiwa perpindahan manusia dan krisis-krisis kemanusiaan pada sejarah peradaban manusia. Seperti yang pernah terjadi di bagian tanduk Afrika Utara dan daerah Sahel.

Perspektif Sains

Pada umumnya, curah hujan di suatu tempat dipengaruhi oleh dua hal. Yakni jumlah uap air di udara dan daya dorong yang menyebabkan gerak naik kelembaban tersebut. Jika salah satu dari keduanya berkurang, terjadilah kekeringan.

Keadaan ini umumnya dipicu oleh berkurangnya perbedaan tekanan udara dan peredaran angin di darat. Sedangkan berkurangnya penguapan air di laut lebih jarang terjadi. Siklus interaksi kondisi atmosferik dan oseanik, seperti halnya El Nino (ENSO) menyebabkan kekeringan terjadi secara periodik, utamanya di daerah-daerah sekitar samudra pasifik.

Aktivitas manusia dapat secara langsung memicu kekeringan, seperti irigasi besar-besaran dan intensifikasi pertanian dalam skala luas, pembalakan hutan, dan erosi yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kemampuan lahan untuk menangkap dan menahan air.

Sementara kegiatan-kegiatan tersebut cenderung berpengaruh secara lokal, tapi ada juga aktivitas-aktivitas lainnya yang dapat membawa pengaruh secara global, yang memicu perubahan iklim yang berdampak serius terhadap pertanian, terutama bagi masyarakat negara berkembang.

Secara umum, pemanasan global akan meningkatkan jumlah curah hujan, di mana peristiwa erosi dan banjir akan meningkat. Di saat yang sama, terdapat daerah- daerah yang akan menjadi lebih kering. Ketika kekeringan terjadi kondisi lingkungan di sekitarnya akan memburuk dan dampaknya terhadap penduduk setempat secara berangsur-angsur akan meningkat.

 

Kekeringan yang parah dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan, seperti yang pernah sering terjadi di Indonesia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement