Jumat 05 May 2023 20:42 WIB

Lelaki dari Ujung Kota yang Syahid di Jalan Dakwah dalam Surat Yasin

Surat Yasin mengabadikan kegigihan lelaki di jalan dakwah

Rep: A Syalaby Ichsan / Red: Nashih Nashrullah
Infografis Keutamaan Surat Yasin. Surat Yasin mengabadikan kegigihan lelaki di jalan dakwah
Foto: Infografis Republika
Infografis Keutamaan Surat Yasin. Surat Yasin mengabadikan kegigihan lelaki di jalan dakwah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Surat Yasin mengabadikan kisah tentang kegighan lelaki dari ujung kota untuk berdakwah mengingatkan kaumnya dari kesesatan.  

Dia berangkat untuk mengingatkan kaumnya tentang tiga utusan Tuhan yang didustakan mereka. Imam Ibnu Katsir menukilkan dari Ibnu Ishaq menyebutkan, mereka bernama Shadiq, Shaduq, dan Syallom. 

Baca Juga

Dalam riwayat lain disebutkan utusan itu bernama Sam'un, Yohana, dan Bolus (Paulus). Mereka mendatangi seorang raja di negeri bernama Intakiyah. 

Almarhum pakar hadis almarhum KH Ali Mustafa Yaqub pernah menjelaskan ayat yang terangkai dalam QS Yasin ayat 13-32 mereka memperkenalkan diri kepada warga negeri Anthakiyah. 

Mereka merupakan para dai yang diutus Nabi Isa al-Masih AS untuk berdakwah kepada warga Anthakiyah agar menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukannya. 

Warga Anthakiyah saat itu di pimpin seorang raja bernama Antikhos yang menyembah patung. Alih-alih menyambut datangnya seruan dakwah, mereka justru mengancam para utusan Allah SWT itu.

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌيمٌ قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ ۚ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

"Mereka menjawab: Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya kamu jika tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti berkata: Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu ada lah kaum yang melampaui batas." (QS Yasin ayat 18-19 ).

Dalam kondisi itulah lelaki dari ujung kota tersebut datang. Beberapa riwayat mengatakan dialah Habib al-Najjar. 

Masih mengutip Ibnu Ishaq, Imam Ibnu Katsir mengatakan, Habib adalah seorang tukang tenun yang sakit-sakitan Dia menderita lepra. Namun, dia juga seorang yang dermawan. Separuh dari hasil kerjanya selalu disedekahkan. Habib pun disebut menderita pikiran lurus. Sementara itu, Qatadah mengatakan, Habib adalah seorang ahli ibadah yang menghabiskan usianya untuk beribadah di salah satu gua di pinggiran negeri Anthakiyah. 

Menurut KH Ali Mustafa Yaqub, Habib berusaha menolong para dai dari ancaman penyiksaan dan pembunuhan. Dia menasihati kaumnya agar mengikuti ajakan (dakwah) para dai. Lantas, Habib mengatakan: 

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Ikutilah orang-orang yang dalam berdakwah tidak meminta imbalan karena mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah SWT (QS Yasin ayat 21). 

Dalam tafsir Al-Misbah, Prof Quraish Shihab menjelaskan, penduduk negeri itu sangat geram mendengar nasihat Habib. Mereka pun melemparnya dengan batu hingga gugur sebagai syahid. Ketika itu, datanglah malaikat menyambut ruhnya sambil ber kata, "Masuklah ke surga." Menjawab sam butan malaikat, Habib lantas mengatakan, "… alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku mengampuni aku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan." 

Baca juga: Shaf Sholat Campur Pria Wanita di Al Zaytun, Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Hukumnya 

Selain mengandung nilai sejarah, ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah Alquran di atas. Di antaranya persiapan mental dalam menjawab tantangan dalam berdakwah. Para nabi atau dalam beberapa riwayat disebutkan utusan Nabi Isa itu menghadapi kaumnya yang me nyem bah berhala untuk beralih menyembah Allah SWT. Saat kaumnya meragukan mereka merupakan utusan Allah, mereka de ngan percaya diri menjawab, "Tuhan kami mengetahui bahwa kami adalah utus anutusan kepada kamu dan tugas kami tidak lain kecuali penyampaian dengan jelas."

Datangnya lelaki mukmin untuk membela mereka menunjukkan betapa tulus lelaki itu. Quraish Shihab menjelaskan, Habib bin Najjar atau siapapun namanya bersedia membuktikan kepada kaumnya ketulusan para rasul itu meski dia berada jauh dari kota. Menurut Quraish, al-Aqsha dalam ayat itu disebut sebagai tempat te jauh dari kota. Adanya kata 'bergegas' menunjukkan sesuatu yang penting dalam hidupnya, sehingga harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.    

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement