2 Ayat Alquran yang Menjadi Landasan Toleransi Islam Menurut Prof Quraish Shihab

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

 Senin 15 Aug 2022 16:41 WIB

Foto udara Masjid Al Azhar (kiri) dan Gereja Nazaret (kanan) di Jalan Gemini, Palangka Raya, Kalimantan Tengah sebagai potret toleransi (ilustrasi). Toleransi merupakan prinsip yang sangat agung dalam Islam  Foto: ANTARA /Makna Zaezar Foto udara Masjid Al Azhar (kiri) dan Gereja Nazaret (kanan) di Jalan Gemini, Palangka Raya, Kalimantan Tengah sebagai potret toleransi (ilustrasi). Toleransi merupakan prinsip yang sangat agung dalam Islam

Toleransi merupakan prinsip yang sangat agung dalam Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia termasuk salah satu negara yang sangat beragam, baik agama, suku, ras, dan budaya. Keragaman itu bahkan ada di internal masing-masing agama, termasuk Islam. Pada saat yang sama, dunia saat ini sedang dihadapkan pada adanya praktik intoleransi, termasuk di media sosial. 

Karena itu, seluruh masyarakat Indonesia penting untuk memahami makna toleransi, serta menerapkan nilai toleransi yang telah diajarkan Alquran dan praktik yang diteladankan Nabi Muhammad SAW. 

Baca Juga

Nilai-nilai toleransi tersebut telah disuguhkan oleh ulama ahli tafsir Indonesia, Prof M Quraish Shihab dalam buku terbarunya yang berjudul  "Toleransi: Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keberagamaan". 

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati bekerja sama dengan Majelis Hukama Muslimin (MHM) kantor cabang Indonesia. Terbit awal Agustus 2022, buku ini menjelaskan bahwa perbedaan dalam hal apa pun adalah rahmat karenanya diperlukan toleransi. 

Sebagai ahli tafsir cendikiawan Muslim, tak diragukan lagi kapasitas Quraish Shihab untuk berbicara toleransi. Pak Quraish Shihab, sapaan akrabnya, lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, 16 Februari 1944. Hingga kini, lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini telah banyak menulis buku dan  menggali nilai-nilai yang terdapat dalam Alquran, termasuk dalam buku Toleransi ini. 

Dalam pendahuluan buku ini, Quriash Shihab menjelaskan bahwa Alquran telah menekankan perlunya tolerensi, maaf-memaafkan dan kerja sama antara manusia seluruhnya dalam keragaman kesukuan, warna kulit, kebangsaan, dan kepercayaan mereka. Hal itu antara lain berdasarkan firman Allah SWT yang pertama dalam surat Al Hujurat (49): 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” 

Sementara itu, dalam surat Al Maidah ayat 3, Allah SWT berfirman sebagai berikut: 

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”   

Dalam buku ini, Quraish Shihab mendefinisikan toleransi sebagai pengakuan eksistensi terhadap pihak lain menyangkut diri, keyakinan, dan pandangannya tanpa harus membenarkan. Makna toleransi ini juga didukung oleh beberapa ulama terkemuka dalam Islam. 

Baca juga: Prof Arief: Derajat Orang Beradab Lebih Utama Dibandingkan Orang Berpendidikan

Terkait Islam dan toleransi, dia menggarisbawahi bahwa agama Islam memerintahkan agar manusia bertoleransi dan memilih yang mudah selama diperkenankan. 

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menuturkan, Allah memang telah menetapkan kemudahan dalam tuntunan-Nya. Namun demikian, setelah kemudahan-kemudahan itu, lahir lagi toleransi-toleransi yang mestinya menjadikan seseorang dapat dengan sangat mudah melaksanakan tuntunan agama.      

sumber : Harian Republika
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id