Mahasiswi Muslim di Karnataka tak Lanjutkan Kuliah karena Larangan Jilbab

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah

 Jumat 17 Jun 2022 23:05 WIB

Wanita Muslim India memegang plakat dan meneriakkan slogan-slogan selama protes terhadap pembatasan jilbab di jalan Mira, di pinggiran Mumbai, India, 11 Februari 2022. Enam siswa di Government Women First Grade College di distrik Udupi, Karnataka, telah dilarang menghadiri kelas karena mengenakan jilbab dan siswa Hindu mulai mengenakan selendang safron sebagai tanda protes. Mahasiswi Muslim di Karnataka tak Lanjutkan Kuliah karena Larangan Jilbab Foto: EPA-EFE/DIVYAKANT SOLANKI Wanita Muslim India memegang plakat dan meneriakkan slogan-slogan selama protes terhadap pembatasan jilbab di jalan Mira, di pinggiran Mumbai, India, 11 Februari 2022. Enam siswa di Government Women First Grade College di distrik Udupi, Karnataka, telah dilarang menghadiri kelas karena mengenakan jilbab dan siswa Hindu mulai mengenakan selendang safron sebagai tanda protes. Mahasiswi Muslim di Karnataka tak Lanjutkan Kuliah karena Larangan Jilbab

Mereka melewatkan pendidikan karena bersikeras mengenakan jilbab di kelas.

REPUBLIKA.CO.ID, KARNATAKA -- Sekitar 20 mahasiswi sarjana dan pascasarjana dari Government First Grade College di Haleyangady, Karnataka, India telah berhenti menghadiri kelas selama tiga bulan. Mereka melewatkan pendidikan karena bersikeras mengenakan jilbab di dalam ruang kelas, sementara otoritas setempat melarang pakaian tersebut. 

“Satu dari 21 mahasiswa tersebut adalah mahasiswi strata satu yang drop out dari perguruan tinggi,” kata Kepala Sekolah K Sridhar, Dilansir dari Deccan Herald, Kamis (16/6/2022).

Baca Juga

Dia mengatakan 19 orang mahasiswa strata satu di tahun terakhir mereka dan satu mahasiswi pascasarjana berhenti menghadiri kelas tiga bulan lalu. Dengan ujian yang dijadwalkan pada Agustus tahun ini, para mahasiswi tidak akan dapat mengikuti ujian karena kehadiran mereka kurang dari 75 persen kehadiran wajib yang dibutuhkan untuk ujian tulis. 

Sridhar mengatakan dia melakukan segala upaya meyakinkan para gadis dan orang tua mereka untuk menghadiri kelas. “Saya sudah menginformasikan perkembangan ini ke Regional Joint Director of Collegiate Education,” ujarnya seraya menambahkan belum ada mahasiswa yang mengumpulkan transfer certificate (TC).

Anggota Uppinangady Gram Panchayat Abdul Rasheed mengatakan 44 gadis Muslim lain menghadiri kelas. Sementara itu, sumber di University College, Mangalore mengatakan sejak Jumat kelas dilakukan secara online dan dengan demikian, semua mahasiswi Muslim, kecuali mereka yang memiliki masalah jaringan menghadiri kelas online. Tidak ada informasi tentang keberadaan empat siswi Muslim yang telah mengumpulkan TC dari kepala sekolah Kelas Satu Sekolah Tinggi Negeri di Kavoor.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id