Turki Tagih Syarat untuk Dukung Swedia dan Finlandia Masuk NATO

Rep: Dwina agustin/ Red: Friska Yolandha

 Rabu 25 May 2022 23:14 WIB

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menunjukkan dokumen saat Swedia dan Finlandia mengajukan keanggotaan di Brussels, Belgia, Rabu 18 Mei 2022. Juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Ibrahim Kalin bersikeras bahwa Turki tidak akan menyetujui Swedia dan Finlandia bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Rabu (25/5/2022). Foto: Johanna Geron, Pool via AP Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menunjukkan dokumen saat Swedia dan Finlandia mengajukan keanggotaan di Brussels, Belgia, Rabu 18 Mei 2022. Juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Ibrahim Kalin bersikeras bahwa Turki tidak akan menyetujui Swedia dan Finlandia bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Rabu (25/5/2022).

Turni menuntut ekstradisi orang-orang yang berhubungan dengan terorisme.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Ibrahim Kalin bersikeras bahwa Turki tidak akan menyetujui Swedia dan Finlandia bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Rabu (25/5/2022). Kedua negara Nordik itu bisa bergabung jika langkah-langkah khusus diambil untuk mengatasi keberatan Ankara.

Desakan ini muncul usai Kalin dan Wakil Menteri Luar Negeri Turki Sedat Onal bertemu delegasi Swedia yang dipimpin oleh sekretaris negara Oscar Stenstrom, sementara delegasi Firlandia dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Firlandia Jukka Salovaara. Mereka melakukan pembicaraan selama lima jam dengan pejabat Swedia dan Finlandia di Ankara. 

Baca Juga

"Kami telah memperjelas bahwa jika masalah keamanan Turki tidak dipenuhi dengan langkah-langkah konkret dalam jangka waktu tertentu, prosesnya tidak akan berjalan,” kata Kalin. 

Kalin mengatakan proposal Turki untuk mencabut batas ekspor senjata disambut dengan sikap positif oleh delegasi Swedia dan Finlandia. Dia menambahkan bahwa pembicaraan akan berlanjut setelah pemerintah Nordik menanggapi tuntutan Turki.

Salah satu tuntutan Ankara adalah ekstradisi 28 orang yang diduga memiliki hubungan terorisme dari Swedia dan 12 dari Finlandia. Kalin mengatakan, tidak ada dasar hukum atau yudisial untuk tidak mengekstradisi mereka. Media pemerintah Turki sebelumnya mengatakan Turki menuntut ekstradisi 33 tersangka dari kedua negara.

Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson mengatakan setelah pertemuan dengan Presiden Dewan Eropa Charles Michel di Stockholm, negaranya ingin mengklarifikasi klaim yang telah beredar selama diskusi dengan Turki. "Kami tidak mengirim uang atau senjata ke organisasi teroris," kata Andersson.

Selama konferensi pers dengan Perdana Menteri Estonia Rabu malam, Andersson mengatakan, pada saat ini penting untuk memperkuat keamanan negaranya. Dia mengatakan Swedia memiliki dialog konstruktif dengan Turki. 

"Bersemangat untuk menyelesaikan masalah dan kesalahpahaman dan pertanyaan," kata Andersson. 

Turki mangajukan lima jaminan konkret yang dimintanya dari Swedia pada pekan ini. Beberapa poinnya termasuk penghentian dukungan politik untuk terorisme, penghapusan sumber pendanaan terorisme, dan penghentian dukungan senjata ke Turki, melarang Kurdistan Workers’ Party (PKK) dan kelompok Kurdi Suriah yang berafiliasi dengannya.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id