Dimas Oky Nugroho Serukan Anak Muda Berbagi Tugas Bantu Negara

Red: Erik Purnama Putra

 Ahad 01 May 2022 10:03 WIB

Ketua Perkumpulan Kader Bangsa, Dimas Oky Nugroho mengisi materi di London, Inggris, Jumat (29/4/2022). Foto: Istimewa Ketua Perkumpulan Kader Bangsa, Dimas Oky Nugroho mengisi materi di London, Inggris, Jumat (29/4/2022).

Mahasiswa Indonesia program S2 dan S3 di Inggris meluncurkan lembaga think tank.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Perkumpulan Kader Bangsa, Dimas Oky Nugroho menekankan, pentingnya Indonesia di era transformasi untuk saling berbagi tugas atau division of labour. Menurut dia, bebagai sebuah bangsa yang bersatu, pemerintah dan masyarakat harus mampu saling kerja sama, berbagi tugas dalam mengejar dan mengawal kepentingan nasional.

Dimas menganggap, anak-anak muda era milenial memiliki keunggulan komparatif dibanding generasi-generasi sebelumnya khususnya dalam menghadapi era digital. "Mereka relatif memiliki perenungan dan kebijaksanaan tersendiri yang berangkat dari kesadaran dan kecepatan perkembangan konten yang mereka konsum dari media sosial," kata Dimas saat peluncuran think tank perkumpulan mahasiswa Indonesia di Inggris yang berlangsung di London, Jumat (29/4/2022).

Eks staf khusus Kantor Kepresidenan tersebut menilai, pelibatan anak-anak muda dalam mensukseskan agenda pemerintah semakin tak bisa dihindari. Kepemimpinan dan inisiatif anak muda produktif, sambung dia, menjadi keuntungan negara dalam mensukseskan proses pembangunan dan transformasi sosial ekonomi yang tengah berlangung saat ini.

Dimas menyampaikan, regenerasi kepemimpinan tidak mungkin dihindari. Hal itu mengingat jumlah populasi anak muda produktif yang besar. Apalagi, di banyak komunitas bisnis, tampuk kepemimpinan telah banyak diserahkan ke generasi ketiga yakni kalangan anak muda.

"Namun harus menjadi catatan, generasi muda yang sudah atau akan menuju jalan kepemimpinan ini masih perlu diperkuat agar mereka punya kapasitas dan integritas yang tepat. Menurut saya, mereka tetap membutuhkan proses pendampingan atau mentoring, sebagaimana Cokro kepada Sukarno, sehingga terbentuk kolaborasi antargenerasi antarsektoral," kata anggota Tim Asistensi Menko Perekonomian itu.

Sementara itu, sejumlah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh program master dan doktoral di Inggris meluncurkan lembaga think tank dan riset bernama Equator Initiative for Policy Research. Menurut salah satu pengagasnya, Muhammad Rosyid Jazuli, inisiatif para mahasiswa Indonesia yang sedang studi di luar negeri dan anak muda diaspora diharapkan dapat membantu berbagai agenda dan program pemerintah, khususnya dalam sumbangsih berbagai kajian dan pemikiran.

"Indonesia negara besar, tantangan zaman juga semakin kompleks. Negara di dunia, sebesar dan sekuat apapun, tidak bisa lagi bekerja secara sendiri. Butuh kontribusi dan kolaborasi semua potensi bangsa, tidak hanya dari bisnis, tapi juga civil society," ujar mahasiswa doktoral di UCL London itu saat membuka acara di Common Room, Nansen Village, London, Jumat.

Acara itu juga dihadiri Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London Khairul Munadi, Asisten Atase Pertahanan Mayor Pas Fajrun Shodiq, dan Sekretaris Perhimpunan Pelajar Indonesia Inggris Raya, Abdul Kodir.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id