Puluhan Ribu Penyuluh Pertanian Ikuti Pelatihan Pemupukan

Red: Fernan Rahadi

 Kamis 29 Apr 2021 05:03 WIB

Petani memupuk tanaman padinya yang berumur 15 hari di Garon, Balerejo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis (11/6/2020). Pemupukan dengan pupuk tabur campuran tersebut merupakan pemupukan pertama pascatanam guna merangsang pertumbuhan dan kesuburan tanaman Foto: Antara/Siswowidodo Petani memupuk tanaman padinya yang berumur 15 hari di Garon, Balerejo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis (11/6/2020). Pemupukan dengan pupuk tabur campuran tersebut merupakan pemupukan pertama pascatanam guna merangsang pertumbuhan dan kesuburan tanaman

Filosofi pemupukan berimbang diartikan sebagai penggunaan pupuk sesuai kebutuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebanyak 66.776 penyuluh pertanian mengikuti Training of Fasilitator (TOF) yang diselenggarakan Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai tindak lanjut pelatihan BPP Kostratani proyek IPDMiP yang dilakukan serentak di tiga lokasi UPT , PPMKP Ciawi, BBPP Batu dan BBPP Batang Kaluku. Kegiatan yang mengambil tema  "Pemupukan Berimbang Tingkatkan Produktivitas dan Daya Saing Pertanian” diselenggarakan untuk terus meningkatkan kompetensi penyuluh pertanian dalam mendampingi petani di lapangan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjelaskan, apabila petani bijak menggunakan pupuk secara berimbang, produktivitas pertanian dipastikan tetap bisa dipertahankan. "Produktivitas pertanian akan seiring dengan pemupukan berimbang. Keduanya saling bertalian erat," kata Mentan, Kamis (29/4).

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menuturkan, pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang signifikan dalam meningkatkan produktivitas. "Kontribusinya 15-60 persen dalam meningkatkan produktivitasnya, tergantung kondisi tanah dan karakteristik tanah," kata Dedi dalam paparannya.

Filosofi pemupukan berimbang, Dedi melanjutkan, dapat diartikan sebagai penggunaan pupuk sesuai kebutuhan. "Gunakan pupuk seperlunya saja. Bukan hanya perubahan iklim, sumber daya lahan dan infrastruktur saja yang mempengaruhi tingginya produktivitas, tetapi juga pemberian pupuk untuk menambah unsur hara," tutur Dedi.

Dedi mengatakan, pemupukan dilakukan untuk meningkatkan mutu, efisiensi pemupukan, meningkatkan kelestarian tanah dan keracunan tanaman serta agar unsur hara menjadi optimal.

"Seperti halnya manusia dan hewan, tanaman memerlukan makanan setelah oksigen dan air. Makanannya disebut sebagai unsur hara. Jadi, unsur hara diperlukan untuk pertumbuan tanaman," papar Dedi.

Pupuk, masih kata Dedi, merupakan bahan yang mengandung unsur hara dalam dosis tinggi. Pupuk diberikan ke dalam tanah untuk memberikan makanan bagi tanaman. Namun tanah juga menyediakan unsur hara dalam jumlah sebagian kecil. “Unsur hara bisa berasal dari jerami sisa makanan. Konsep pemupukan berimbang adalah memberikan pupuk dalam jumlah secukupnya,”ungkap Dedi.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Leli Nuryati menerangkan, ada beberapa tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini di antaranya mengimplementasikan pemupukan berimbang, memperkuat RDKK pupuk bersubsidi, memperkuat koordinasi vertikal dan horizontal serta mengawal dan mendampingi petani dalam melakukan pemupukan berimbang.

"Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi penyuluh dalam penerapan teknologi pemupukan berimbang," ujar Leli. Menurut Leli, kegiatan ini merupakan lanjutan dari Training of Trainer (TOT) yang diselenggarakan pada 22-25 April 2021.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id