Wanita yang Guncang Singgasana Pemimpin Zalim Umayyah 

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

 Senin 01 Feb 2021 10:02 WIB

Ghazalah wanita berani lawan pemimin Umayyah yang zalim. Ilustrasi Padang Pasir Foto: Pixabay Ghazalah wanita berani lawan pemimin Umayyah yang zalim. Ilustrasi Padang Pasir

Ghazalah wanita berani lawan pemimin Umayyah yang zalim

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ada kisah seorang wanita yang mengalahkan salah satu pria paling kuat dan brutal dalam sejarah. Wanita tersebut bernama Ghazalah dari Suku Shaibani. Dia adalah salah satu wanita yang dikenal berani dan punya kemampuan menunggang kuda.

Ghazalah berasal dari Mosul di Irak. Bersama suaminya, dia terlibat dalam beberapa pertempuran di medan perang dan melawan pemimpin zalim bernama Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi.

Baca Juga

Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi 661 M/ 40 H – 714 M/ 95 H) adalah penguasa, politisi, dan menteri pertahanan dari kekhilafahan Umayyah. Dia merupakan sosok yang kontroversial dan pelik dalam sejarah awal umat Islam.

Dia dikenal sebagai seorang penguasa yang cerdas namun keras dan kejam. Dalam catatan secarah dia pernah berupaya meruntuhkan Ka’bah dan telah membunuh dengan jumlah yang sudah tak terhitung.

Ghazala pun bertempur dengan luar biasa hingga berhasil mengalahkan Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Thaqafi di depannya langsung dan suaminya. Hajjaj saat dikalahkan Ghazala, langsung kabur melarikan diri.  

Ghazala sendiri telah bersumpah untuk masuk ke masjid Kufah dan kemudian sholat dua rakaat di sana, membaca surat Al-Baqarah dan surat Ali Imran. Kekalahan Hajjaj saat itu digambarkan dalam bait syair yang berbunyi:

 "أسدٌ علَيّ وفي الحروبِ نعامةٌ" "Seekor singa ada di atasku, dan ada burung unta berperang?". Namun Hajjaj bisa dibilang, ibarat burung unta di depan rusa, setelah dikalahkan perempuan bernama Ghazala. 

Selama dua tahun, peperangan terus terjadi. Ghazala dan suaminya pun terus berperang melawan Hajjaj. Saat itu mereka mengalahkan lebih dari 20 tentara. Namun kemudian pemimpin Hajjaj mengirim pasukan yang besar. Hingga akhirnya Ghazala terbunuh. Tentara yang mengalahkannya itu kemudian langsung mengambil kepala Ghazala untuk dibawa ke hadapan Hajjaj. 

Tetapi, suami Ghazala berhasil merebut kembali kepala tersebut, lalu menguburkan Ghazala di dekat Kufah. Dengan demikian, wafatnya Ghazala di medan perang menandai awal berakhirnya peperangan yang terjadi selama dua tahun.

Sumber: https://arabicpost.net/%D8%AB%D9%82%D8%A7%D9%81%D8%A9/history/2017/02/07/%D8%A7%D9%85%D8%B1%D8%A3%D8%A9-%D9%87%D8%B2%D9%91%D9%8E%D8%AA-%D8%B9%D8%B1%D8%B4-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AC%D8%A7%D8%AC/

(Umar Mukhtar)

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id