Jumat 22 Apr 2022 05:41 WIB

Khutbah Jumat Pertama di Masjid Aqsa

Kerinduan akan Masjid al-Aqsa pun terobati.

Komplek Masjid Al-Aqsha di Baitul Maqdis, Palestina.
Foto: alaqsa-mosque.blogspot.com
Komplek Masjid Al-Aqsha di Baitul Maqdis, Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID  -- Detik-detik kemenangan Shalahuddin al-Ayyubi dan bala tentaranya merebut kembali Masjid al-Aqsha terekam dengan baik dalam sejarah. Setelah hampir 90 tahun, kiblat pertama umat Islam itu berada di bawah cengkeraman Tentara Salib.

Pada 2 Oktober 1187 M/27 Rajab 582 H di malam Isra, Kota Yerusalem berhasil direbut. Semua bersujud syukur, termasuk pimpinan tertinggi Dinasti Ayyubiyah tersebut. Kerinduan akan al-Aqsha pun terobati.

Semua berbondong-bondong menuju masjid kebanggaan umat Islam tersebut untuk menyiapkannya sebagai tempat shalat. Masjid itu dibersihkan dari simbol-simbol kekufuran. Selama dikuasai Tentara Salib, al-Aqsha dijadikan sebagai istana dan pusat komando perang.

Patung salib tegak berdiri di tiap sudut al-Aqsha. Belum lagi, puluhan babi yang dipelihara di lingkungan al-Aqsha.

"Kumandangkan iqamat," titah Shalahuddin.

Shalat yang pertama kali dilaksanakan di al-Aqsha setelah 90 tahun tak terjamah azan dan lantunan ayat suci Alquran adalah shalat Jumat.

Di hadapan para tentara, Qadi Muhyiddin bin Zaki ad-Din menyampaikan pidato yang penuh makna dan pesan-pesan suci. Ia menukilkan ayat ke-45 surah al-An'am sebagai pembuka pidatonya.

"Maka, orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

"Wahai segenap manusia, berbahagialah dengan ridha Allah SWT yang merupakan tujuan utama, Dia telah memudahkan untuk mengembalikan kembali Aqsha yang sirna dari umat yang tersesat. Ini adalah tanah air bapak kalian, Ibrahim AS dan lokasi Mi'raj Muhammad SAW, serta kiblat pertama kalian. Di sinilah Rasul shalat dengan para malaikat.

Beruntunglah para tentara, di tangan kalian telah nyata mukjizat kenabian dan tanda-tanda kemenangan Perang Badar, tekad seorang Abu Bakar, penaklukan Umar, kehebatan tentara Utsman, kepiawaian Ali!

Kalian telah mengembalikan kejayaan Qadisiyah, peristiwa Yarmuk, Khaibar, untuk Islam. Allah SWT akan membalas jasa dan segala daya upaya yang kalian kerahkan untuk melawan musuh. Allah akan menerima darah para syahid dan menggantinya dengan surga kelak.

Bersyukurlah atas nikmat ini dan jaga selalu nikmat-Nya, inilah penaklukan yang pintu-pintu langit dibuka untuknya. Wajah orang yang teraniaya kembali cerah dan para malaikatnya pun bersukacita. Mata para nabi dan rasul-Nya teduh kembali. Bukankah al-Aqsha adalah rumah yang dimulaiakan raja, dipuji para rasul, dan tersebut dalam empat kitab suci dari Tuhan kalian?

Pujilah Allah yang telah membimbing kalian atas apa yang tak mampu dilakukan generasi terdahulu, Dia menyatukan kalian yang tercerai-berai, Dia pula menggantikan kata-kata yang "lalu dan konon" dengan kata "akan dan hingga".

Sekarang, para malaikat langit akan meminta ampunan dan mendoakan doa terbaik untuk kalian. Pertahankan selalu anugerah dan jaga nikmat ini selalu dengan ketakwaan kepada Allah, yang dengan takwa itulah, siapa pun akan selamat, dan barang siapa berpegang teguh dengan talinya akan terjaga.

Dan, waspadailah kehadiran setan yang akan membisikkan di telinga kalian bahwa kemenangan ini mutlak dari hunusan pedang, kehebatan kuda kalian di medan jihad. Padahal, tidak karena "Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS al-Anfal [8]: 10).  

Dunia Islam merindukan figur pembebas seperti Umar bin Khatab atau Shalahuddin al-Ayyubi. Kehadiran kedua tokoh itu menjadi angin segar tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi umat non-Muslim yang tinggal di Yerussalem ketika itu.

Pembebasan Shalahuddin, tokoh kelahiran Tikrit, Irak, itu mengakhiri pembantaian 70 ribu warga Yerussalem.

Padahal, menurut Karen Armstrong dalam Perang Suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, sebelum kedatangan tentara Salib, umat tiga agama hidup dengan harmonis selama 460 tahun di kota suci Yerussalem.

Tentara Salib tiba di kota ini pada Juli 1099, kemudian melakukan pembantaian puluhan ribu umat Muslim dan Yahudi. Peristiwa itu mengubah lanskap hubungan ketiga agama besar ini secara signifikan.

Al-Aqsha kini terus menghadapi rongrongan Zionis Israel. Yang terjadi saat ini, telah diramalkan penyebabnya oleh Qadi Abu al-Mudzhafar al-Abayuri, cendekiawan terkemuka yang hidup di tengah hiruk pikuk Perang Salib, yaitu umat semakin jauh dari tuntuntan agama.

Ia terpukul dan sedih saat al-Aqsha kembali jatuh di tangan Tentara Salib. Ia pun merindukan kehebatan tentara Shalahuddin. Kegundahannya itu tergurat dalam gubahan syairnya:

Saat Aku melihat umat tak lagi menjaga agama mereka

Panah tak lagi bertegaran dan agama mulai tak lagi ditopang

Jika sendi agama tak disokong

Mudah sekali mereka tergelincir dalam kenistaan

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement